Kamis, 27 Oktober 2016

Mendaki Papandayan Part 1


Setelah petualangan mendaki di cikuray yang sangat menakjubkan, ku ingin mendaki kembali. Hari demi hari pun terus disibukan dengan pekerjaan. Meskipun ada hari libur, waktunya tak akan cukup ditambah biaya yang belum siap mengsupport.

Sampai hari dimana bulan penuh suci pun datang. Yaitu bulan Ramadhan, bulan yang sangat ditunggu – tunggu bagi semua muslim.

Disaat malam tarawih ada temanku yang mengajakku mendaki ke gunung papandayan, namun belum ada kepastian kapan kami mendaki. Awalnya banyak sekali yang ingin ikut serta dalam pendakian ini, namun yang tetap bertahan hanya ada 5 orang yaitu : Zidan, Rizky, Angga, Luthfi, dan Aku.

Kemudian besoknya kami berdiskusi kapan tanggal yang tepat untuk pendakian ini? Dan berapa perkiraan biayanya? Zidan memprediksi sekitar 200 Ribu, karena dialah yang mendirikan acara ini dan dia pula yang menetapkan kapan pendakian dimulai.

Dia berencana mendaki tiga hari setelah Lebaran. Dikarenakan 1,2 atau 3 hari setelah lebaran mungkin volume kendaraan sangat padat, jadi dia menyarankan kita untuk berangkat menggunakan kereta ke Garut. Selain menghemat biaya, naik kereta sangat terjangkau karena bebas dari macet. Namun semua rencana ini diluar perkiraan kami.

Di H-1 kami mengatur dan berdiskusi. Barang apa saja yang akan kita bawa dan apa saja persediaan makanan yang harus kita bawa, Kami tak sempat menyewa tenda, gas, dan kompor mini. 

Keesokannya di hari jumát kami pergi ke STT Telkom untuk mencari tempat penyewaan camp namun tempat penyewaannya tutup, karena kita mendaki di hari dimana banyak orang pulang ke kampung halaman. Kami mencoba mencari di internet tempat penyewaan yang masih buka dan jaraknya yang dekat, karena jam 2 kita harus segera berangkat. Alhamdulillah keberuntungan menghampiri kita, ada tempat penyewaan yang masih buka dan jaraknya pun sangat dekat dengan lokasi kita. Tanpa basa basi kita pun lekas pergi kesana. Dan sesuai dugaan tempatnya masih buka dan tendanya masih ada, namun kompor dan gas stoknya sudah habis.

Kemudian kami menunggu kedatangan teman Zidan yang bersedia meminjamkan kompornya. 2 Jam kami menunggu akhirnya dia datang. Setelah itu kami pulang kerumah masing – masing untuk mengurus keperluan – keperluan yang harus kita bawa.

Jam menunjukan pukul 14.00 yang artinya kita bergegas berkumpul dan siap berangkat ke stasiun Kiaracondong. Sebelum pergi ketempat tujuan, kami berencana ke rumah Zidan yang ada di Lewigoong garut untuk beristirahat semalam sebelum pendakian dimulai.

Di stasiun Kiaracondong banyak sekali yang antri untuk pulang kampong, bahkan ada yang menunggu dari jam 5 subuh. Mereka rela lakukan ini agar bisa bertemu dengan sanak saudara di kampong halaman yang sudah menunggu kehadirannya.

Aku pun heran “Jika mereka mengantri jam 5 subuh, itu artinya kesempatan dapat tiket keretapun mustahil” yang antri bukan hanya 1  atau dua tapi puluhan sedangkan volume tiket hanya untuk 250 orang dan kita mengantri di siang hari, yang artinya tiketpun sudah hamper habis.

Kemudian ada pengumuman dari petugas kereta yang mengatakan bahwa tiket menuju stasiun Lewigoong sudah habis.

Awalnya kami putus asa, namun seorang laki – laki menghampiri dan menanyakan kemana tujuan kami pergi. Dia menawarkan tumpangan ke tempat tujuan kami, namun biayanya terlalu mahal di banding naik kereta. Kami terus memohon keringanan biaya dan akhirnya dia setuju namun ironisnya hal itu hanya berlaku terhadap kami sedangkan penumpang yang lain tidak.

Kamipun pergi memakai mobil dan terdapat 14 penumpang didalamnya…. Keadaan sesak dan pengap harus kami hadapi Karena mobil ini hanya memiliki ventilasi yang kecil.

3 Jam perjalanan kami, akhirnya sampailah kami di tempat tujuan… Pemandangan sunset yang indah dan begitu sejuknya udaranya. Kehidupan dimana mereka belum terlalu mengenal dunia modern, terlihat dari banyaknya sawah – sawah yang ada di depanku.

Bersambung...


Riki Kurniawan Web Developer

"Tinggalkanlah kampung halamanmu, jangan khawatirkan perpisahan sanak saudaramu. Minyak Atsiri yang harum itu berasal dari kotoran binatang, tetapi setelah terpisah dari tempatnya, banyak orang yang menyukainya. Celak mata berasal dari batu pinggir jalan, tetapi dapat menghiasi kelopak mata manusia setelah meninggalkan pinggir jalan." - Imam Syafi'i

Tidak ada komentar:

Posting Komentar