Terkadang disaat mengingat kembali masa - masa kecil suka
tertawa sendiri. Saking asiknya menjelajah memori masa kecil, sampe di bilang
gila oleh Ayahku dan Kakakku.
“Cocon”, “Conor”, “Mercon”,
“Kencon” adalah nama panggilanku ketika kala masih kecil. Tanpa kusadari hari
demi hari panggilan itu muncul di setiap orang yang bertemu denganku. Terkadang
aku merasa heran apa yang sudah kulakukan hingga membuat mereka memanggilku dengan
sebutan itu, lama kelamaan hampir semua orang menyebutku dengan panggilan itu,
kecuali sahabatku mereka masih memanggilku dengan nama asliku.
Saat itu aku masih polos tak tahu apapun, jadi apapun yang
mereka katakan selalu aku abaikan. Aku tak peduli sedikitpun tentang nama
panggilan atau apapun, yang penting mereka menerima kehadiranku.
Kejadian pertama disaat aku mendapatkan nama panggilan itu
adalah membakar saung tetangga. Awalnya memang tak ada niat sedikitpun untuk
membakar saung, karena di balik itu semua aku sedang berteduh menunggu hujan
reda bersama sahabat baikku.
Cerita ini sungguh lucu, aku begitu polosnya hingga tak
memprediksi apa yang akan terjadi bila aku melakukan hal itu. Hal ini kadang
sering membuatku senyum sendiri bagaikan orang gila di pinggir jalan yang
sedang cungar cengir (senyum senyum).
Awal kejadiannya disaat kami mau pulang kerumah. Tiba - tiba hujan lebat disertai petir kilat datang kami terpaksa berteduh di sebuah saung dekat rumah jaraknya mungkin hanya 50m.
Tadinya aku mau pulang langsung, hanya saja petir itu yang membuatku takut dan
kami terpaksa berteduh disana sampe hujan reda.
Kami sangat kediningan, saung itu tak memiliki dinding untuk
menahan laju angin hingga terpaksa harus membuat api ungun untuk menghangatkan
tubuh kami. Ide ini tak tau siapa yang buat dan saking polosnya mereka setuju.
Kebetulan banget disaung itu ada korek dan kertas kami bakar satu persatu,
hingga api membesar sampe ke atap sampai melahap setengah isi saung. Untung
saja saat itu masih hujan, jadi saungnya ga kebakar semua. Namun tetap saja hal
itu membuat semua orang khawatir bila api membesar dan menyebar ke setiap rumah warga yang berdekatan dengan saung.
Kejadian kedua disaat aku dan sahabatku merusakkan Kios mini milik pamanku. Awalnya juga memang ga ada niat sama sekali,
karena di balik itu semua aku sedang bermain gambar di dalam dan ada sahabatku
sedang tidur pulas di atas yang biasa di pake untuk menyimpan barang.
Awal kejadiannya disaat kami sedang bermain gambar di lantai
bibiku, tapi kemudian bibiku menyarankan untuk mencari tempat lain, karena
suara kami terlalu berisik hingga membuat tidur orang lain terganggu.
Saat itu aku tak tau harus kemana lagi, kemudian ada usulan
entah dari siapa (maaf lupa lagi hehe) untuk bermain di dalam kios. Kemudian
kami asyik bermain didalamnya, ada yang sedang bermain ada pula yang sedang
tidur diatas tempat penyimpanan barang. Tubuh mereka itu munyil walaupun
lubangnya kecil tapi tetep aja masuk namun hal fatal yang terjadi adalah dia
tidur terlalu mengarah kesamping, hingga keseimbangan kios itu jatuh. Aku
segera lari keluar kios namun temanku yang sedang tidur tak dapat melarikan
diri karena tempatnya sempit. Namun alhamdulillah tak ada luka apapun, namun
kios itu rempeng dan terdapat remukan bagaikan body mobil yang terserepet
motor. Kejadian itu membuat pemanku rugi, karena tak dapat menjual Pais lauknya
di kios itu dan terpaksa dia menjual pais lauknya di depan rumah.
Setelah semua kejadian itu, aku begitu polosnya tak
memperdulikan resiko apapun yang akan menimpa diriku. Namun seiring berjalannya
waktu, banyak orang yang memanggilku “cocon”,
“conor”, “kencon”, “mercon”, tapi sahabatku tak mungkin memanggilku dengan
sebutan itu, karena kita adalah sahabat baik dari balita.
Saat ini kadang masih ada yang manggilku dengan sebutan
itu. Namun seiring berjalannya waktu panggilan – panggilan itu hilang. Mungkin
mereka telah melupakan kejadian kejadian nakal masa kecilku, karena menurut
pandangan mereka diriku yang sekarang sudah berubah dengan aku yang dulu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar