Sabtu, 19 Maret 2016
Alam yang hilang
Alam adalah ciptaan Allah S.W.T yang sungguh luar biasanya
mendatangkan keberkahan bagi umatnya.
Alam adalah sumber mata pencaharian dan pengetahuan bagi
umat manusia. Kehadirannya membuat kenangan yang indah dan tak ternilai
harganya. Kehadirannya pula dapat memberi manfaat bagi mereka yang
mencintainya, ataupun dapat memberi ancaman bagi mereka yang menyakitinya.
Alamlah sumber pengetahuan dan sejuta pengalamanku. Tanpanya
aku tak mungkin dapat bertahan hidup didunia ini. Dulu aku sering bencengkrama dengan alam, berinteraksi
dengan pepohonan dan rerumputan, meski mereka memberikan jawaban yang sama.
Dulu dikala masih kecil, kami sering bermain dengan alam
atau kebanyakan orang menyebutnya “bobolangan”
, kegiatan yang kami lakukan sangat banyak mulai dari ngurek belut (mancing
belut sawah), ngusep (mancing ikan), memetik buah buahan, mandi di sungai dll.
Tempat yang sering kami mainkan itu letaknya di daerah yang
sekarang dihuni oleh Amaya Residence, sungguh sedih rasanya bila tanah yang sering
kami mainkan sekarang menjadi perumahan konglomerat. Padahal sawah - sawah disana merupakan sumber mata pencaharian masyarakat.
Bahkan tak segan – segan mereka menawarkannya dengan harga tinggi, hingga
membuat orang tergiur akan tawarannya. Namun alhamdulillah sawah yang disewa
ayahku tetap tak di jual hingga sekarang.
Dulu kami tak tak mengenal alat elektronik seperti gadget
dan hp. Begitu asyiknya kami bercengkrama dengan alam hingga tak memperdulikan
apa yang sedang terjadi di area perkotaan.
Hal yang paling aku ingat itu disaat mencari belut. Kami tak
mengurek melainkan mencari, ada istilah dari sahabatku namanya Pedri dia bilang
“kalau kita nemu ular sawah tiga kali, nanti kita pasti akan dapat belut” Aku
begitu polosnya setuju dengan istilah itu, namun hal mengejutkan ialah disaat
kami ketemu ular sawah tiga kali, ehh taunya beneran kita nemu belut yang
nongol di lubangnya.
Tanpa basa basi kami pun langsung mengeruk tanahnya hingga
merusak lahan sawah orang lain hingga mendapatkan apa yang kami cari.
Tiap minggu pun kami sering ke daerah batununggal, bukan untuk
olahraga ataupun menjahili rumah orang lain, melainkan mencari impun (ikan
kecil) di selokan perumahan. Banyak sekali impun disana, bahkan pemilik rumah
pun tidak menyadari bahwa di selokan rumahnya penuh dengan impun dan sampai
sekarangpun selokan rumah itu masih di penuhi impun.
Banyak sekali petualangan – petualang masa kecil yang penuh
kenangan mulai dari ngurek belut disaat hujan, ngusep di sawah orang lain sampe
di kejar pemiliknya, main bola yang kalah harus telanjang, nyari buah buat di
rujak, berenang di sawah, main layang – layang, main kelereng, melihara jangkrik,
melihara ikan cupang, dll.
Sangat disayangkan, anak kecil yang terlahir di zaman
sekarang tak dapat merasakan bagaimana asyiknya bercengkrama dengan alam,
berinteraksi dengan alam, dan bertukar pikiran dengan alam.
Riki Kurniawan
Web Developer
"Tinggalkanlah kampung halamanmu, jangan khawatirkan perpisahan sanak saudaramu. Minyak Atsiri yang harum itu berasal dari kotoran binatang, tetapi setelah terpisah dari tempatnya, banyak orang yang menyukainya. Celak mata berasal dari batu pinggir jalan, tetapi dapat menghiasi kelopak mata manusia setelah meninggalkan pinggir jalan." - Imam Syafi'i
Rabu, 16 Maret 2016
Aku anak nakal ?
Terkadang disaat mengingat kembali masa - masa kecil suka
tertawa sendiri. Saking asiknya menjelajah memori masa kecil, sampe di bilang
gila oleh Ayahku dan Kakakku.
“Cocon”, “Conor”, “Mercon”,
“Kencon” adalah nama panggilanku ketika kala masih kecil. Tanpa kusadari hari
demi hari panggilan itu muncul di setiap orang yang bertemu denganku. Terkadang
aku merasa heran apa yang sudah kulakukan hingga membuat mereka memanggilku dengan
sebutan itu, lama kelamaan hampir semua orang menyebutku dengan panggilan itu,
kecuali sahabatku mereka masih memanggilku dengan nama asliku.
Saat itu aku masih polos tak tahu apapun, jadi apapun yang
mereka katakan selalu aku abaikan. Aku tak peduli sedikitpun tentang nama
panggilan atau apapun, yang penting mereka menerima kehadiranku.
Kejadian pertama disaat aku mendapatkan nama panggilan itu
adalah membakar saung tetangga. Awalnya memang tak ada niat sedikitpun untuk
membakar saung, karena di balik itu semua aku sedang berteduh menunggu hujan
reda bersama sahabat baikku.
Cerita ini sungguh lucu, aku begitu polosnya hingga tak
memprediksi apa yang akan terjadi bila aku melakukan hal itu. Hal ini kadang
sering membuatku senyum sendiri bagaikan orang gila di pinggir jalan yang
sedang cungar cengir (senyum senyum).
Awal kejadiannya disaat kami mau pulang kerumah. Tiba - tiba hujan lebat disertai petir kilat datang kami terpaksa berteduh di sebuah saung dekat rumah jaraknya mungkin hanya 50m.
Tadinya aku mau pulang langsung, hanya saja petir itu yang membuatku takut dan
kami terpaksa berteduh disana sampe hujan reda.
Kami sangat kediningan, saung itu tak memiliki dinding untuk
menahan laju angin hingga terpaksa harus membuat api ungun untuk menghangatkan
tubuh kami. Ide ini tak tau siapa yang buat dan saking polosnya mereka setuju.
Kebetulan banget disaung itu ada korek dan kertas kami bakar satu persatu,
hingga api membesar sampe ke atap sampai melahap setengah isi saung. Untung
saja saat itu masih hujan, jadi saungnya ga kebakar semua. Namun tetap saja hal
itu membuat semua orang khawatir bila api membesar dan menyebar ke setiap rumah warga yang berdekatan dengan saung.
Kejadian kedua disaat aku dan sahabatku merusakkan Kios mini milik pamanku. Awalnya juga memang ga ada niat sama sekali,
karena di balik itu semua aku sedang bermain gambar di dalam dan ada sahabatku
sedang tidur pulas di atas yang biasa di pake untuk menyimpan barang.
Awal kejadiannya disaat kami sedang bermain gambar di lantai
bibiku, tapi kemudian bibiku menyarankan untuk mencari tempat lain, karena
suara kami terlalu berisik hingga membuat tidur orang lain terganggu.
Saat itu aku tak tau harus kemana lagi, kemudian ada usulan
entah dari siapa (maaf lupa lagi hehe) untuk bermain di dalam kios. Kemudian
kami asyik bermain didalamnya, ada yang sedang bermain ada pula yang sedang
tidur diatas tempat penyimpanan barang. Tubuh mereka itu munyil walaupun
lubangnya kecil tapi tetep aja masuk namun hal fatal yang terjadi adalah dia
tidur terlalu mengarah kesamping, hingga keseimbangan kios itu jatuh. Aku
segera lari keluar kios namun temanku yang sedang tidur tak dapat melarikan
diri karena tempatnya sempit. Namun alhamdulillah tak ada luka apapun, namun
kios itu rempeng dan terdapat remukan bagaikan body mobil yang terserepet
motor. Kejadian itu membuat pemanku rugi, karena tak dapat menjual Pais lauknya
di kios itu dan terpaksa dia menjual pais lauknya di depan rumah.
Setelah semua kejadian itu, aku begitu polosnya tak
memperdulikan resiko apapun yang akan menimpa diriku. Namun seiring berjalannya
waktu, banyak orang yang memanggilku “cocon”,
“conor”, “kencon”, “mercon”, tapi sahabatku tak mungkin memanggilku dengan
sebutan itu, karena kita adalah sahabat baik dari balita.
Saat ini kadang masih ada yang manggilku dengan sebutan
itu. Namun seiring berjalannya waktu panggilan – panggilan itu hilang. Mungkin
mereka telah melupakan kejadian kejadian nakal masa kecilku, karena menurut
pandangan mereka diriku yang sekarang sudah berubah dengan aku yang dulu.
Riki Kurniawan
Web Developer
"Tinggalkanlah kampung halamanmu, jangan khawatirkan perpisahan sanak saudaramu. Minyak Atsiri yang harum itu berasal dari kotoran binatang, tetapi setelah terpisah dari tempatnya, banyak orang yang menyukainya. Celak mata berasal dari batu pinggir jalan, tetapi dapat menghiasi kelopak mata manusia setelah meninggalkan pinggir jalan." - Imam Syafi'i
Langganan:
Postingan (Atom)

