Minggu, 28 Februari 2016

Pertama kalinya mendaki gunung Part 2


"Ohh gitu,, aku masuk ke camp dulu ya, cuaca disini dingin". Ungkapku

Malam ini aku harus bertahan dari dinginnya suhu yang mungkin hampir setara dengan cuaca di kutub. Untung saat itu aku bawa jaket tebal yang hampir mirip dengan jaket pemadam, pemberian dari pamanku yang bekerja di PT Len, saat itu beliau memberikanku jaket untuk persiapan keberangkatanku.

Aku mengerti begitu dinginnya malam hari di tengah hutan, bahkan siang pun tetap saja dingin. Sangat disarankan membawa 2 jaket, untuk menghindari terjadinya Hipo (Hipotermia). Banyak dari pemula yang terkena hipo, mereka meremehkan cuaca tengah hutan di malam hari. Api ungun lah yang menjadi penghangat serta penerang jalan menuju puncak. Bahkan meski tengah malam seperti ini, banyak orang yang melanjutkan perjalanan demi melihat pemandangan matahari terbit.

Setelah sarapan kami ber 7 pun tidur, tapi kakaknya helmi ga mau tidur, karena takut ada pembegalan. Pernah aku mendengar rumor banyak orang yang terkena begal, mereka membawa golok dan pisau untuk mencuri barang berharga dari korban. Dan ingat jangan bawa barang berharga disaat kita mau mendaki, selain HP. Usahakan kalau bisa jangan bawa kamera DSLR, karena satu - satunya barang yang paling di incar selain uang dan HP, yaitu Kamera. Kami ber 7 bergantian menjaga keamaan pada barang bawaan dan mencek kondisi luar untuk mengantisipasi terjadinya bencana yang sangat tidak kita harapkan seperti longsor atau banjir. Curah hujan disini tidak terlalu tinggi, banyak orang yang melanjutkan perjalanan untuk melihat sunrise atau tempat camp di dekat puncak.

Waktu menunjukan pukul 03.00 kita pun bersiap - siap melanjutkan perjalanan. Perjalanan kali ini mungkin tidak akan lama, karena kita tidak bawa Courir yang menjadi beban pendaki. yang kita bawa hanyalah HP dan senter sebagai penerang jalan, awalnya aku mengira "gimana mau jalan di malam hari yang gelap gulita ini" tapi jangan risau banyak sekali pendaki yang melanjutkan perjalanan. Setiap jalan dihiasi lampu terang benderang, sungguh indah sekali melihatnya, bagaikan kunang - kunang yang sedang bermigrasi (lebay kali yee).

Sudah ratusan mungkin ribuan kali ku menaiki anak tangga. begitu kerasnya cobaan ini, banyak dari mereka yang menyerah sampe Pos 4 atau 5. Kebanyakan dikarenakan supply makanan dan minumannya habis, banyak juga yang memberikan mereka minuman untuk kepergian pulangnya. Hati nurani pendaki sungguh dermawan, mereka peduli sesama dan merasakan begitu kerasnya dan letihnya hanya demi menaiki puncak. Aku pun begitu letihnya sampe - sampe botol aqua yang ku persiapkan pun hanya tersisa 1 setengah botol, padahal setiap orang bawa 4 botol aqua besar. Ketika berpapasan dengan pendaki lain yang hendak menurun kebawah, mereka bilang "Semangat yaa" "Ayo semangat 30 menit lagi". setelah mendengarnya lega sekali bila benar yang dikatannya itu benar, tapi kenyataannya kita udah berjalan lebih dari 30 menit bahkan 1 jam. Aku paham apa maksud para pendaki itu, mereka bilang seperti itu supaya suasana tidak begi hening, sepi dan sebagai penyemangat bagi pendaki lain.

Aku melihat cahaya dari langit yang menunjukan bahwa kita hampir sampai ke puncak, kemudian kita pun bergegas dan mempercepat langkah kaki supaya matahari terbit tidak terlewatkan. Oksigen disini begitu sedikit karena tekanan udara yang begitu rendah, apalagi kita harus berebut oksigen dengan para pendaki lain, sehingga semakin kecil kadar oksigen disini. Kadang ada juga yang bawa tabung mini oksigen untuk memperkuat stamina disaat mendaki. Langkah demi langkah ku percepat hingga tiba di puncak.

Alhamdulillah targetku selesai, misi kami berhasil. Yang tadinya letih, sakit punggung, keram, dll. semuanya terbayar setelah melihat pemandang yang begitu luar biasanya ciptaan Allah Subhanahu Wata'ala. Puncak ini di kelilingi awan putih tebal yang begitu mulusnya bagaikan kapas lembut. Banyak orang yang mengambil foto sebagai kenang - kenangan mereka, banyak juga yang menuliskan nama di kertas, sebagai hasil jeri payahnya pada teman yang dituliskan di atas kertas itu. Ada juga yang rela naik bangunan yang disediakan oleh pemerintah hanya untuk mengambil foto, ku perhatikan setiap wajah senyum mereka yang penuh kebahagiaan dan rasa syukur terhadap ciptaan Allah Subhanahu Wata'ala yang begitu luar biasanya. Aku pun ikut berbondong - bondong untuk mendapatkan foto, kami ber 7 pun berfoto bersama dengan wajah yang penuh cileuh dan rambut yang rawig acak - acakan hahaha ...

Dalam foto ini begitu banyak kisah yang begitu luar biasanya








P.S :
Ku ucapkan Jazakumullah Kheir pada sahabat baikku Helmi Rafsanjani, Kakaknya, & rekan kerja kakaknya. Pengalaman ini sungguh luar biasa, aku mungkin tak akan bisa melupakan momen indah ini. Karena berkat kelembutan hati mereka, aku dapat memetik pelajaran berharga dalam hal pendakian.

Riki Kurniawan Web Developer

"Tinggalkanlah kampung halamanmu, jangan khawatirkan perpisahan sanak saudaramu. Minyak Atsiri yang harum itu berasal dari kotoran binatang, tetapi setelah terpisah dari tempatnya, banyak orang yang menyukainya. Celak mata berasal dari batu pinggir jalan, tetapi dapat menghiasi kelopak mata manusia setelah meninggalkan pinggir jalan." - Imam Syafi'i

Sabtu, 27 Februari 2016

Pertama kalinya mendaki gunung Part 1


Tak pernah kubayangkan bagaimana rasanya mendaki jalanan yang menjulang keatas layaknya menaiki ribuan anak tangga.

Pertama kalinya mendaki, aku di ajak teman sekelasku ke Gunung Cikuray yang tingginya mencapai 2818 mdpl. Yang ada di bayanganku setelah melihat gambar di google, mungkin terasa mudah, tapi setelah merasakan begitu kerasnya perjuangan. Hal tersebut layaknya orang yang sedang berusaha menuju kesuksesan.

Disaat persiapan menuju Gunung Cikuray, aku cek persediaan makanan, minuman, obat - obatan, pakaian, dll. Kakak teman sekelasku nanya
"Kamu bawa berapa botol aqua ?"
"Aku bawa 2 botol aqua yang besar" Jawabku
"Tambah lagi 3 botol aqua yang besar" landasnya
Sungguh heran padahal ini bukan aqua yang 600 ml, aku turuti setiap permintaanya karena dialah yang paling berpengalaman diantara kami ber 7. Dia juga menyarankan agar jangan terlalu banyak bawa pakaian, cukup baju kaos 1, celana panjang 1, dan jaket 2. Hal itu lebih ringan dibawa dibanding harus bawa selimut, bantal, dll. Pendaki yang lain mungkin akan menertawakan kalian bila membawa selimut, bantal, dll. Karena kita nginep di gunung bukan hotel, tapi jika selimutnya sarung ya gpp yang penting ringan. Dia juga menyarankan untuk memperbanyak persediaan makanan dibanding pakaian.

          Kemudian kami ber 7 berangkat malam supaya tiba disananya subuh, jadi kita ga perlu hamburin senter buat mendaki. Sebelum tiba di jalan raya dekat kaki gunung cikuray, ku lihat banyak sekali bintang kerlap kerlip menghiasi setiap jalan yang kulalui, temenku sibuk mengendarai motornya dan aku begitu asyiknya melihat pemandangan ciptaan Allah S.W.T yang luar biasa begitu indahnya hingga membuat kelopak mata manusia yang melihatnya terpana.

Ohh iya sebelum kita tiba di Pemancar dimana pendakian kita dimulai, kalian harus memilih salah satu diantara 3 rute yaitu : Desa Babakan Loak, Desa Cisumur, Desa Mekarsari. Aku tak tau rute apa yang kulali karena aku seorang pemula jadi aku hanya diam sambil melihat pemandangan pagi di setiap desa yang begitu tenang tanpa adanya polusi dan kendaraan yang sering kita lihat di kepadatan kota. Keseharian mereka hanya bertani dan bercocok taman, tanpanya mungkin bahan pokok tidak akan ada di setiap kota.

Nah sesampai kita di Pemancar kita bisa mulai mendaki, kami ber 7 mulai mendaki sekitar pukul 07.00 pagi, lucunya yaitu temen sekelasku helmi, dia malah bawa courier Irvan yang tingginya sekitar 100 cm dan isinya banyak sekali pakaian dan makanannya, Aku bawa courier helmi karena barang bawaanku sedikit jadi barangku disatuin kedalam couriernya helmi. Awal mendaki mungkin masih ringan karena kita belum masuk hutan, tapi kalo udah masuk hutan kita akan setara dengan latihan TNI (lebay banget). Helmi begitu capek menggendong courier Irvan dan dia hanya membawa Trash bag, karena berat badannya yang guede atau bisa di bilang gendut *maaf, jadi dia ga bisa nahan benda berat bila mendaki. Aku sama helmi gantian gendong tas irvan yang begitu beratnya mungkin setara bawa 3 Gas Elpiji yang isinya 3kg.

"Jika kita udah masuk hutan jangan pernah sembarang nyebut - nyebut nama hantu" Kata temen kakaknya Helmi.. (Lupa lagi namanya)
"BerdoĆ” aja supaya diberi keselamatan" Tambahnya
"Dig (nama aslinya Ilham tapi sering dipanggil badig) didinya kan geus pangalaman, bener kitu aya nu pernah diudag jurig didieu ?" Tanyaku
"Heeh matakna tong nyebut kasar di diditu mah, komo deui ngaran jurig"
Aku diam dan takut karena belum pernah sekalipun masuk hutan curam.

Setibanya di hutan begitu banyaknya pendaki, mereka berasal dari jawa barat, jawa timur, jawa tengah, jakarta bahkan ada juga dari kalimantan. Hal yang paling menyenangkan saat naik gunung itu kita saling bersapa dan silaturahmi kepada setiap pendaki, kata yang sering mereka ucapkan "Punten" "Mangga" "Semangat! Semangat!" "Semangat 30 menit lagi". Kata- kata itu supaya kita sesama pendaki tidak merasa sepi dan bosan, aku sih ga tau apakah pendaki luar negeri sama seperti indonesia, setiap kali bertemu bilang "Semangat Ayo Semangat!". Atau mungkin hanya Indonesia yang seperti itu.

Begitu lelahnya kaki ini setelah menaiki ratusan anak tangga sampai detak jantung pun berdebar kencang. Hal yang paling nyesek itu disaat kita mendaki dari Pos 2 sampe Pos 3 yang jaraknya sangat jauh. setibanya di Pos 3 itu sekitar jam 11.30 dan bertepan dengan datangnya hujan. Hujan adalah musuh para pendaki, karena disaat hujan turun maka kita harus siap siaga mendaki agar tidak terpelesat dan lebih parah lagi kalo masuk Jurang, rumornya pernah ada orang yang terpeleset masuk jurang disaat hujan.Setelah mendengarnya, ku perhatikan setiap langkah kaki bahkan sapaan dari pendaki lain pun kadang aku abaikan. Pos 3 menuju 4 memang begitu lama, perkiraan bila tak hujan mungkin 1 jam 30 menit pun udah sampe ke Pos 4, tapi apa daya kita tak bisa melawan hukum alam, perjalan terus lalui bahkan aku sendiri pun kadang harus minta bantuan pada pendaki lain untuk melewati track curam. Setibanya di Pos 4 itu sekitar jam 02.40, nah Pos 4 ke 5 pun lumayan jauh bahkan kita sampai ke Pos 5 itu sekitar jam 05.00 dan terpaksa harus nge camp disana.

Karena matahari mulai terbenam kami pun segera membuat tenda di Pos 5, kadang kita harus nyari tempat yang pas buat camp, tak begitu mudah mencari tempat kadang banyak orang rela melanjutkan perjalanan di gelap malam demi mencari tempat yang sesuai dengan jumlah pendaki. Bayangan bagi pemula pasti takut kalo nge camp semalaman di tengah hutan. Jangan khawatir karena pendaki gunung itu banyak sekali bahkan bisa nyampe ribuan, jadi api unggun selalu hadir untuk menyinari dan menghangatkan kita. Ku lihat keluar banyak sekali yang nge camp, tapi sayangnya aku ga bisa liat bintang karena tertutupi ranting ranting pohon. Kemudian untuk mengisi rasa sepiku, aku bertanya pada tetangga camp yang ada di sebelah.
"Permisi mau nanya, Kalian berasal dari mana ?"
"Kami dari Jakarta, tapi ada satu dari Cirebon yang ikut ke rombongan kami" Jawabnya
"Mas sendiri ?"
"Saya dari Bandung"
"Mas lagi masak apa ?" Tanyaku
"Ini lagi masak tahu dari tadi belum mateng"
......(To be continued)

Riki Kurniawan Web Developer

"Tinggalkanlah kampung halamanmu, jangan khawatirkan perpisahan sanak saudaramu. Minyak Atsiri yang harum itu berasal dari kotoran binatang, tetapi setelah terpisah dari tempatnya, banyak orang yang menyukainya. Celak mata berasal dari batu pinggir jalan, tetapi dapat menghiasi kelopak mata manusia setelah meninggalkan pinggir jalan." - Imam Syafi'i