Malam ini aku harus bertahan dari dinginnya suhu yang mungkin hampir setara dengan cuaca di kutub. Untung saat itu aku bawa jaket tebal yang hampir mirip dengan jaket pemadam, pemberian dari pamanku yang bekerja di PT Len, saat itu beliau memberikanku jaket untuk persiapan keberangkatanku.
Aku mengerti begitu dinginnya malam hari di tengah hutan, bahkan siang pun tetap saja dingin. Sangat disarankan membawa 2 jaket, untuk menghindari terjadinya Hipo (Hipotermia). Banyak dari pemula yang terkena hipo, mereka meremehkan cuaca tengah hutan di malam hari. Api ungun lah yang menjadi penghangat serta penerang jalan menuju puncak. Bahkan meski tengah malam seperti ini, banyak orang yang melanjutkan perjalanan demi melihat pemandangan matahari terbit.
Setelah sarapan kami ber 7 pun tidur, tapi kakaknya helmi ga mau tidur, karena takut ada pembegalan. Pernah aku mendengar rumor banyak orang yang terkena begal, mereka membawa golok dan pisau untuk mencuri barang berharga dari korban. Dan ingat jangan bawa barang berharga disaat kita mau mendaki, selain HP. Usahakan kalau bisa jangan bawa kamera DSLR, karena satu - satunya barang yang paling di incar selain uang dan HP, yaitu Kamera. Kami ber 7 bergantian menjaga keamaan pada barang bawaan dan mencek kondisi luar untuk mengantisipasi terjadinya bencana yang sangat tidak kita harapkan seperti longsor atau banjir. Curah hujan disini tidak terlalu tinggi, banyak orang yang melanjutkan perjalanan untuk melihat sunrise atau tempat camp di dekat puncak.
Waktu menunjukan pukul 03.00 kita pun bersiap - siap melanjutkan perjalanan. Perjalanan kali ini mungkin tidak akan lama, karena kita tidak bawa Courir yang menjadi beban pendaki. yang kita bawa hanyalah HP dan senter sebagai penerang jalan, awalnya aku mengira "gimana mau jalan di malam hari yang gelap gulita ini" tapi jangan risau banyak sekali pendaki yang melanjutkan perjalanan. Setiap jalan dihiasi lampu terang benderang, sungguh indah sekali melihatnya, bagaikan kunang - kunang yang sedang bermigrasi (lebay kali yee).
Sudah ratusan mungkin ribuan kali ku menaiki anak tangga. begitu kerasnya cobaan ini, banyak dari mereka yang menyerah sampe Pos 4 atau 5. Kebanyakan dikarenakan supply makanan dan minumannya habis, banyak juga yang memberikan mereka minuman untuk kepergian pulangnya. Hati nurani pendaki sungguh dermawan, mereka peduli sesama dan merasakan begitu kerasnya dan letihnya hanya demi menaiki puncak. Aku pun begitu letihnya sampe - sampe botol aqua yang ku persiapkan pun hanya tersisa 1 setengah botol, padahal setiap orang bawa 4 botol aqua besar. Ketika berpapasan dengan pendaki lain yang hendak menurun kebawah, mereka bilang "Semangat yaa" "Ayo semangat 30 menit lagi". setelah mendengarnya lega sekali bila benar yang dikatannya itu benar, tapi kenyataannya kita udah berjalan lebih dari 30 menit bahkan 1 jam. Aku paham apa maksud para pendaki itu, mereka bilang seperti itu supaya suasana tidak begi hening, sepi dan sebagai penyemangat bagi pendaki lain.
Aku melihat cahaya dari langit yang menunjukan bahwa kita hampir sampai ke puncak, kemudian kita pun bergegas dan mempercepat langkah kaki supaya matahari terbit tidak terlewatkan. Oksigen disini begitu sedikit karena tekanan udara yang begitu rendah, apalagi kita harus berebut oksigen dengan para pendaki lain, sehingga semakin kecil kadar oksigen disini. Kadang ada juga yang bawa tabung mini oksigen untuk memperkuat stamina disaat mendaki. Langkah demi langkah ku percepat hingga tiba di puncak.
Alhamdulillah targetku selesai, misi kami berhasil. Yang tadinya letih, sakit punggung, keram, dll. semuanya terbayar setelah melihat pemandang yang begitu luar biasanya ciptaan Allah Subhanahu Wata'ala. Puncak ini di kelilingi awan putih tebal yang begitu mulusnya bagaikan kapas lembut. Banyak orang yang mengambil foto sebagai kenang - kenangan mereka, banyak juga yang menuliskan nama di kertas, sebagai hasil jeri payahnya pada teman yang dituliskan di atas kertas itu. Ada juga yang rela naik bangunan yang disediakan oleh pemerintah hanya untuk mengambil foto, ku perhatikan setiap wajah senyum mereka yang penuh kebahagiaan dan rasa syukur terhadap ciptaan Allah Subhanahu Wata'ala yang begitu luar biasanya. Aku pun ikut berbondong - bondong untuk mendapatkan foto, kami ber 7 pun berfoto bersama dengan wajah yang penuh cileuh dan rambut yang rawig acak - acakan hahaha ...
Dalam foto ini begitu banyak kisah yang begitu luar biasanya
Ku ucapkan Jazakumullah Kheir pada sahabat baikku Helmi Rafsanjani, Kakaknya, & rekan kerja kakaknya. Pengalaman ini sungguh luar biasa, aku mungkin tak akan bisa melupakan momen indah ini. Karena berkat kelembutan hati mereka, aku dapat memetik pelajaran berharga dalam hal pendakian.